Friday, February 22, 2008

I Say A Little Prayer

The moment I wake up
Before I put on my makeup
I say a little prayer for you
While combing my hair, now,
And wondering what dress to wear, now,
I say a little prayer for you

Forever, forever, you'll stay in my heart
and I will love you
Forever, forever, we never will part
Oh, how I'll love you
Together, together, that's how it must be
To live without you
Would only be heartbreak for me.

I run for the bus, dear,
While riding I think of us, dear,
I say a little prayer for you.
At work I just take time
And all through my coffee break-time,
I say a little prayer for you.

Forever, forever, you'll stay in my heart
and I will love you
Forever, forever we never will part
Oh, how I'll love you
Together, together, that's how it must be
To live without you
Would only be heartbreak for me.

My darling believe me,
For me there is no one
But you.

The Movie:
A soundtrack from "My Best Friend's Wedding". What's different about this movie from most romantic comedy is that the heroine and hero did not ended up together.

The Song:
Sang by the lady of soul Aretha Franklin

The Real Life:
A little prayer for a best friend..
...to be brave
...to be tolerance
...to endure
...to have faith
...to be acceptance
...and to still have passion and believes in your dreams
There are those who love you.
Good luck.

Monday, February 18, 2008

Untitled Confusion

It's funny how when you know that you were asleep but you're feeling something else that felt so real. Next thing you know you woke up sad in the middle of the night, lighted up a cigarette and thinking about this;

flat words
casual gestures

felt like a sharp pain

closed doors
unshared thoughts

felt like a cold solitude

they say it takes two to tango
what it feels now is an endless one way highway

felt like an empty cold desert night

Next thing you know you felt sleepiness creeping back in and you're thankful for that.
Tomorrow is another day.

Labels: ,

A Computer Named Elodie

She looked at me.
With a rigid smile with no hint of emotion but a mechanical twitch on her face. A movement created by some complicated back process programming language that sent by the central processing unit to respond to a reaction by a human near her.

Dress all black.
In a John Galiano’s outfit and moves with ease around the room keeping her eyes on the powerful giant computer screen displaying an image a satellite picture of the a deserted land somewhere in the Middle East. Her slender yet full figured body bends as she touches few buttons enhancing the curves of a perfectly build woman. Her eyes focus on the screen with an intense look that contradicts the face of a melancholic beauty that seems to come from an unknown ethnic origin.

I watched her.
The almost human robot with skills ranging from mastering all martial arts known to the world to a DJ spinning the latest rave including the intelligent of understanding ancient Egyptian manuscripts and Chinese Caligprahy.

She looked at me.
This time the usual empty gaze flickered momentarily with a touch of human emotion.

Sadness.

A computer named Elodie had a mechanical malfunction that cause her to have a melody of heart beat.

She looked at me.
I gazed back and understood that she did not want me to fix the malfunction and to just let it be.

She looked at me.
I smiled and my gaze told her that I understood.




A long forgotten unfinished writing. Tonight it is done.

Labels:

Saturday, February 09, 2008

Sisi Kiri Bangku Taman

Mataku menatap sebuah sudut sepi di ujung sana. Sebuah ruang hampa yang kini hanya bertepikan sandaran tangan kayu. Bangku taman dari kayu jati tua dengan ruang yang hanya cukup untuk dua orang itu terasa seperti lautan lepas tanpa daratan dilihat dari dimana aku duduk di sisi kanan. 

Termangu aku duduk menatap berbagai guratan-guratan panjang maupun pendek yang ada di sandaran kayu dan dudukan bangku itu. Setiap guratan garis seakan bercerita kembali kepadaku kisah-kisah lama yang muncul dalam bayangan layar bergerak di kepalaku. 

Kembali mataku menatap sudut kiri bangku taman itu. Sisa hujan semalam masih meninggalkan bekas noda basah dengan warna yang lebih gelap dibanding bagian lain. Setetes air hujan bahkan  masih tergenang di sebuah lubang kecil disandaran tangan kayu. Permukaannya yang bening dan tenang menikmati keberadaannya di ruang kosong tak berpenghuni seakan seperti bola mata yang menatapku kembali dengan riang. Aku menatap kembali dan mencoba berdialog dengan tetes air hujan yang riang itu. Terpikir olehku mungkin dia senang nasibnya lebih baik dari para temannya yang jatuh disisi kanan bangku. Tetes-tetes air hujan yang kini telah lenyap entah terlempar atau terserap kulit atau pakaianku selama aku sering duduk terdiam disudut itu. 

Mataku berbisik kepada si tetes air hujan dan meminta maaf telah melenyapkan teman-temannya. Sering terpikir mungkin lebih baik aku tidak duduk lagi disudutku dan pergi meninggalkan bangku taman itu. Mata basah riang itu seakan tersenyum dan mengajak ku untuk tetap menemaninya.

"ini adalah tempatmu dan sudut itu adalah dirimu. Jangan takut, teman-temanku akan kembali lagi di hari hujan yang berikutnya" katanya

"aku merasa ada yang hilang dan ini bukan tempatku lagi" bisik ku

"sisi itu sudah menjadi tempatmu dan guratan garis cerita yang ada disini tidak akan pernah hilang. bangku ini adalah rumah bagimu" katanya lagi

"aku sebelum ini tidak pernah memperhatikanmu" aku meminta maaf kepada teman baruku itu

"senyum mu setiap kali hujan turun adalah perhatianmu kepadaku dan teman-temanku" katanya tetap riang

Aku tersenyum melihat kepolosan dan ketulusan setetes air hujan itu. 

"duduklah disisi ini. jangan takut kehilangan diriku karena bagian dari ku selalu akan kembali ke bangku ini setiap kali hujan" katanya lagi

Aku mengangguk dan tersenyum mendengar janjinya yang mencoba menenangkan hatiku.

"Aku akan coba pada waktunya nanti untuk duduk disisi mu" jawabku berjanji

"Jangan lupa untuk membawa lemon cheesecake kesukaan mu. Aku suka aroma jeruknya" dia mengingatkanku atas salah satu ritual di bangku taman itu

Aku menganguk lagi dan seakan bisa merasakan sisa rasa jeruk di lidahku dari entah kapan saat terakhir kali aku memakan sepotong lemon cheesecake.

Labels: , , ,