Thursday, April 28, 2005
The Missing Bench
I wrote this as a comment on "Abandonned City Parks" in Graffiti Bench by the famous but rarely appeared contributor, Silly Sushi. She's just being her silly self as usual.
Anyway, after re-reading the comment I thought it could be use as a write-up for this blog. So here it goes and sorry about the mixed lingo but I was too lazy to think in one language when writing it.
Kunci dari semua ini adalah akibat dari adanya semacam "missing link" terhadap budaya dan peradaban kita sendiri. Dengan begitu seperti ada "lost identity" yang terjadi dalam masyarakat kita yang bukan saja awam tapi juga dalam komunitas pemerintahan, bisnis, pendidikan, sosial dan seni dan budaya. Sangat disayangkan dengan adanya "lost identity" ini mengakibatkan masyarakat menerjemahkan "modernization is equal to westernization" sehingga akar budaya dan peradaban kita sendiri menjadi rentan terhadap serbuan ide-ide dari luar. Ini mengakibatkan kita dalam berkarya dengan cara "copying ideas" dan bukan "creating ideas".
Modernization should be about bringing out the beauty of our own culture and heritage from seclusion so that it can touch society and change lives for the better.
Harus ada semacam pergerakan yang dapat kembali membuat kita berpikir untuk melakukan suatu proses "re-finding identity" dengan cara kembali ke akar budaya kita sendiri. Dengan adanya "identity" yang jelas maka diharapkan akan timbul "pride" yang mana akan memicu "interest" terhadap budaya dan peradaban kita sendiri.
Tuesday, April 19, 2005
Abandonned City Parks
Membahas tentang taman kota Jakarta memang memiliki sejumlah daftar lokasi yang potensial. Sebutlah Lapangan Monas, Lapangan Banteng, Taman Blok M, Taman Suropati, Taman Lembang, juga Taman Proklamasi, dan masih banyak lagi tempat-tempat umum lain yang bisa dikembangkan misalnya; Museum Nasional, Museum Fatahillah dan sebagainya. Namun dari semua tempat ini, tak satu pun yang berhasil menjalankan peranannya sebagai ruang publik umum (open public space) dimana seluruh masyarakat sekitarnya bebas melakukan aktifitas. Tugu-tugu dan monumen serta prasasti-prasasti yang tertulis dibawahnya pun tak sanggup memberikan momen reflektif akan sejarah peradaban kota pada penduduknya sendiri. Jalan-jalan yang ada di Jakarta tak mampu memberikan momen personal bagi para penggunanya.
Bagi banyak kalangan menengah atas di Jakarta, jalanan dan tempat-tempat itu tak lebih hanya sekedar pemandangan yang lewat dari dalam kaca-kaca mobil mereka. Seorang ibu dengan kereta bayinya berjalan di sebuah taman menjadi suatu pemandangan yang sulit sekali ditemukan, banyak para ibu lebih memilih mengajak anak-anaknya berjalan di dalam mall-mall yang terisolasi dan sebenarnya tanpa disadari menyerahkan diri pada konsumerisme. Namun, mall yang dijadikan sebagai alternatif public space memang jelas memberikan rasa nyaman khususnya bagi para kelas menengah Jakarta, karena di dalamnya mereka tak perlu berhadapan dengan realita akan perbedaan sosial. Mall dengan sendirinya telah menyeleksi orang-orang yang ada di dalamnya dengan tingkat ekonomi dan gaya hidup tertentu, menawarkan keragaman sosial yang sesungguhnya penuh kebohongan.
Hal ini memang wajar saja, karena banyak masyarakat di Jakarta sebenarnya telah mengalami isolasi dari lingkungannya, mereka tak lagi merasa bersama-sama memiliki jalan-jalan kota. Jalan hanyalah suatu transisi dari satu tempat ke tempat lain, dimana dalam perpindahannya itu orang cenderung berada di dalam ruang privasinya sendiri yang bergerak dengan sangat cepat tanpa merasa perlu berinteraksi dengan sekelilingnya untuk menjadi bagian dari kota. Maka tak heran bila banyak dari kita tak cukup merasa bertanggung jawab menjaga lingkungannya. Minimnya interaksi dengan lingkungan jelas meminimkan rasa kepemilikan yang meniadakan keinginan untuk memeliharanya.
Jakarta sebagai kota sayangnya hanya dijadikan sebagai alat pembangunan saja dengan dimensi yang sempit tanpa menerlibatkan penduduknya sendiri untuk ambil andil. Kota merupakan suatu puncak pemukiman manusia, dan sudah seharusnya juga menjadi tempat ekspresi budaya penduduknya. Maka itu rasanya Jakarta, kota tercinta kita, perlu menata kembali fungsi ruang publiknya untuk membangkitkan vitalitas penduduk demi menciptakan rasa memiliki dan inklusif dengan melibatkan seluruh masyarakatnya dalam menentukan masa depan kota.
Monday, April 04, 2005
Thoughtless Thought
A 2003 Shiraz Carbenet from Willowglen. That's all I can think of at the moment. Of course Pope John Paul II just passed away yesterday (read Ciao Grande Papone in Art Bench). The world is again losing a great man. There is also the issue of the quake at Nias island and all the displaced people and countless victims. Bebel Gilberto was having a concert the other day, I think. Avril Lavigne arrived in town yesterday or is it today?. No, today is the concert.
That's all I can think of at the moment. Let me just pour myself another glass of that Shiraz. Dark spicy grapes from the New World down under. A bit heavy without meal. A good substitute for Bordeaux although a St. Emillion Merlot would be the proper choice at the moment. Well, maybe a Riesling.
That's all I can think of at the moment. Let me just pour myself another glass of that Shiraz. Dark spicy grapes from the New World down under. A bit heavy without meal. A good substitute for Bordeaux although a St. Emillion Merlot would be the proper choice at the moment. Well, maybe a Riesling.
That's all I can think of at the moment.





